Jikalah


Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa harus dijalani dengan sepedih rasa, sedangkan ketegaran akan lebih indah dikenang nanti.

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa tidak dinikmati saja, sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.

Jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa, sedangkan ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.

Jikalah kebencian dan kemarahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa, sedangkan menahan diri adalah lebih berpahala.

Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya, sedangkan taubat itu lebih utama.

Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri, sedangkan kedermawaan justru akan melipat gandakannya.

Jikalah kepandaian dan kepintaran akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti membusungkan dada, menyombongkan diri dan membuat kerusakan di dunia, sedangkan dengannya (kepandaian dan kepintaran) manusia diminta mengajarkan ilmunya tersebut, dan diminta menjadi khalifah memimpin dunia agar sejahtera.

Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama, sedangkan memberi akan lebih banyak menuai arti.

Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti dirasakan sendiri, sedangkan berbagi akan membuatnya lebih bermakna.

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya, maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka, sedangkan begitu banyak kebaikan bisa dicipta.

Jikalah ………………………….. *apalagi yaa??? ^___^

Suatu hari nanti, saat semua telah menjadi masa lalu, Aku ingin ada di antara kita, yang beralaskan di atas permadani sambil bercengkerama dengan saudara dan tetangganya, saling bercerita tentang apa yang sudah dilakukannya di masa lalu, hingga kita mendapat anugerah itu.

“Duhai Kawan, dulu aku miskin dan menderita, namun aku tetap berusaha senantiasa bersyukur dan bersabar. Dan ternyata, derita itu hanya sekejap saja dan cuma seujung kuku, dibanding segala nikmat yang kuterima sekarang ini”

“Wahai Kawan, dulu aku membuat dosa sepenuh bumi, namun aku bertobat dan tak mengulangi lagi hinggga sekarang ini. Dan ternyata, ampunan-Nya seluas alam raya, hingga sekarang aku berbahagia”

Suatu hari nanti, ketika semua telah menjadi masa lalu, Aku tak ingin ada di antara kita, yang berpeluh darah dan berkeluh kesah, andai di masa lalu kita adalah tanah saja.

“Duhai! Harta yang dahulu kukumpulkan sepenuh raga, ilmu yang kukejar setinggi langit, kini hanyalah masa lalu yang tak berarti. Mengapa dulu tak kubuat menjadi amal jariyah yang dapat menyelamatkanku kini?”

“Duhai! Nestapa, kecewa, dan luka yang dulu kujalani, ternyata hanya sekejap saja dibandingkan sengsara yang harus kuarungi kini. Mengapa aku dulu tak sanggup bersabar mesti hanya sedikit jua?”

Semoga dengan ini kita bisa mengambil hikmatnya, bisa menjadi obat disaat kita mengalami masalah/ kesusahan, dan sekaligus sebagai introspeksi diri untuk menjadikan diri kita sebagai manusia yang lebih pandai bersyukur atas semua nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s