Jaga Keharmonisan


Sebelum saya menceritakan hal ini, saya ingin mencantumkan nama-nama putra-putri orangtua saya:

1. Nanik Zubaidah (mbak.Nanik)
2. M. Mudzakir Hasan (mas.Nanang)
3. M. Hasan Asy’ari (mas.Wawan)
4. M. Wahib (mas.Wahib)
5. M. Muntashir (mas.Tasir)
6. M. Nahar (yang paling ganteng)… *maaf, bencanda ^__^

Hari ini saya merasa sedih dengan situasi yang tiba-tiba seperti ini. Situasi dimana keharmonisan keluarga saya sedikit terganggu. Situasi yang tidak saya inginkan, situasi yang menjadikan satu sama lainnya saling menyalahkan dan saling diam.

Awal cerita, di hari minggu ini kita (anak-anak ibu) kumpul di rumah. Saya juga tidak tau kenapa pada hari ini kakak saya (mas.Nanang) mengumpulkan kita semua untuk membicarakan masalah warisan almarhum bapak. Warisan yang sejak bapak masih hidup sudah dibagi sama bapak, dan semua anak-anak beliau (kami) juga menerimanya dengan senang hati.

Dalam pertemuan itu kami membahasa tentang warisan tanah, yang tepatnya tanah rumah ini. Yang sejak bapak masih ada, tanah ini diwariskan kepada saya (nahar) dan kakak saya (mas.Nanang). Tetapi, pada pertemuan ini ada wacana untuk membagi lagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu saya, mas.Nanang, dan mbak.Nanik. Dengan alasan mbak.Nanik (anak pertama, perempuan satu-satunya) tidak mendapatkan bagian warisan tanah kebun (dapatnya cuma tanah sawah).

“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’: 11)

“wong wedok ngendong, wong lanang mikul” yang artinya (kurang lebih) : bagian warisan seorang perempuan separuh (setengah) dari laki-laki.

Dan saya sebagai anak bungsu (anak ke-6), saya meng-IYA-kan dan menyetujui hal tersebut. Karena saya sebagai anak bungsu, anak yang paling kecil cuma manut (menerima) saja sama mereka, dan saya cuma berharap keluarga ini tidak hilang keharmonisannya gara-gara masalah warisan. Dan yang terpenting, ketenangan almarhum bapak di sana tidak terganggu.

Saya benar-benar ikhlas untuk memberikan sebagian warisan tersebut kepada kakak saya (mbak.Nanik). Sekali lagi, saya tidak mau keluarga ini pecah gara-gara warisan. Saya mengalah untuk kebaikan, keharmonisan, dan keutuhan keluarga ini. Dan saya ikhlas Lillahita’ala…

Mas.Nanang : Har, tanah ini tidak jadi dibagi dua, tapi dibagi menjadi tiga bagian (Aku,Kamu, dan mbak.Nanik). Pendapat kamu gimana?

Saya : Iya, nggak apa-apa! Terserah…aku manut aja…

Ibu : Jangaaaaan! Mbak.Nanik bagiannya memang cuma tanah sawah, tidak dapat tanah kebun..karena dia (mbak.Nanik) anak perempuan… beda dengan anak laki-laki.

Saya : nggak apa-apa, Bu!! Aku ikhlas kok…

Mbak.Nanik : Kamu (nahar) memang anak yang baik, anak yang penurut (manut), aku bangga punya adik seperti kamu…

Saya : Iya, mbak! Matur nuwun… Aku seperti ini juga karena mbak juga…

*itulah sedikit potongan dari pembicaraan kami*

Tiba-tiba mas.Wawan dengan muka kesal dan kecewa, dia keluar dari pertemuan itu untuk pergi dari rumah. Entah apa yang ada dipikirannya, saya tidak tau. Dia diam seribu bahasa, sampai saat saya nulis ini pun dia belum bicara kepada kami, hanya diam, diam, dan diam…

Yang jadi pertanyaan saya adalah “Mengapa saudara-saudara saya jadi begini, gila harta? Kemana sifat baiknya selama ini?”

Dan saya cuma bisa berpesan : Jaga Keharmonisan keluarga ini!!! Jangan sampai harta menjadi pemecah keluarga ini… Harta tidak akan menjamin hidup ini bahagia, harta bukan segalanya!


Ya Allah, Ya Rabb!! Hamba mohon berikanlah hamba, saudara-saudara hamba, dan keluarga hamba kecerahan hati dan pikiran untuk menghadapi masalah ini…

Ya Allah, Ya Rabb!! Lindungilah keluarga hamba dari godaan-godaan setan, peliharalah dan tambahkanlah kebaikan-kebaikan pada keluarga hamba…

Ya Allah, Ya Rabb!! Hanya padaMu lah hamba memasrahkan segala urusan hamba, Engkau lebih mengetahui mana yang baik, dan mana yang jelek untuk hamba… Karna Engkaulah, Allah yang Maha Mengetahui.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s